KERASIONALAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI POLIKLINIK ANAK RUMAH SAKIT UMUM RATU ZALECHA MARTAPURA PERIODE JANUARI-JUNI 2010
Oleh Ruhi Sophiani
Isnaini,S.Si.,M.Si.,Apt
Drs. Akhmad Yani,M.Si.,Apt
1. LATAR BELAKANG
Penyakit infeksi masih merupakan penyakit yang banyak dijumpai di Indonesia sampai saat ini, khususnya negara berkembang seperti Indonesia. Peranan antibiotik dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi masih sangat menonjol, termasuk penggunaan antibiotik dalam pengobatan Tuberkulosis paru (TB paru) (Purnamawati, 2008).
Di beberapa negara sedang berkembang, persentase peresepan antibiotika yang sebenarnya tidak perlu diberikan sebesar 52%-62%. Data dari Indonesia mencatat sedikitnya 43% antibiotika yang diberikan sebenarnya tidak diperlukan. Mengingat luasnya Indonesia, tidak kecil kemungkinan adanya data yang lolos dan tidak terekam. Penelitian di beberapa tempat di Sumatra barat menunjukkan bahwa tingkat pemakaian antibiotika sebesar 90%. Sedikit sekali puskesmas yang memberikan antibiotika kurang dari 70%. Tingkat penggunaan antibiotika untuk balita mencapai 83% dan 60% pada mereka di atas 5 tahun (Purnamawati, 2008).
Salah satu penyakit yang pengobatannya memerlukan antibiotik adalah penyakit TB paru. Menurut laporan WHO tahun 2007, jumlah seluruh kasus baru di Indonesia sebesar 528.000 orang per tahun, atau 228/100.000 populasi, sedangkan prevalensi TB dengan BTA (+) 102/100.000 populasi (Depkes RI, 2001). Salah satu penyakit penyebab kematian utama yang disebabkan oleh infeksi, adalah Tuberkulosis, dan penyakit ini merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernafasan akut pada seluruh kalangan usia (Depkes, 2005).
Penyakit Tuberkulosis paru masih menjadi permasalahan kesehatan di Kalimantan Selatan. Berdasarkah hasil survei di Rumah Sakit Umum Ratu Zalecha Martapura tercatat bahwa penyakit Tuberkulosis paru merupakan penyakit 10 besar yang sering diderita oleh pasien di poliklinik anak. Puncak kejadian Tuberkulosis Paru terbesar adalah pada bulan Januari-Juni 2010 yaitu sebesar 519 kasus. Kasus yang cukup besar tersebut menuntut tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal salah satunya adalah dengan cara meningkatkan kualitas dari penggunaan obat untuk menghindari kesalahan dalam pengobatan. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas penggunaan obat adalah dengan peresepan yang rasional. Kerasionalan penggunaan antibiotik pada pasien Tuberkulosis Paru anak belum pernah dilakukan di RSUD Ratu Zalecha Martapura sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Kerasionalan Peresepan Antibiotik pada Pasien Tuberkulosis Paru di Poliklinik Anak RSUD Ratu Zalecha Martapura Periode Januari-Juni 2010.